Google+ Followers

Tuesday, 26 March 2013

Cerpen Kompas: Pao An Tui *1

Cerpen Kompas Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Dari balik kain penutup jasad, dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. Istrinya, Ling-Ling, sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. Kedua anaknya yang masih hidup, A Cong dan Beng Sin, ikut-ikutan menjerit di samping ibunya.

Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Korban berjatuhan. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti.

Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang. Asap hio menyengat. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. Rambutnya kusut, sebagian menutupi wajahnya.

”Sudahlah, Ling. Jangan menangis terus-menerus. Relakan kepergian Siong. Tuhan akan menerimanya di surga,” katanya.

”Kenapa kau tega membiarkan ia mati, Suamiku? Siong, gantunganku bila kau tak ada, mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu,” teriaknya sambil menggerung-gerung.

Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun. Keng Hong melirik kedua adik iparnya.

”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat,” kata Keng Hong.

”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong. ”Orang-orang yang berkedok membela Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar.”

”Sudahlah, kita pikirkan nanti saja. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah,” kata Keng Hong. ”A Cong, kau pergi ke tempat Paman Cia. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga. Dia orang baik, tentu mau menolong kita. Jangan menangis terus. Kau sekarang menjadi anak tertua. Jangan cengeng!”

Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. Hujan terus turun sejak semalam. Sekarang, meskipun tinggal rintik-rintik, air masih menggenangi halaman belakang. Keng Hong mencangkul tanah basah, seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu. Setelah empat jam menggali tanpa henti, akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik.

Malam. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. Wajah-wajah mereka muram. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil.

Dengan kalimat terbata-bata, ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. Semalam, hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong, menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya. Tapi A Siong mewarisi keberanian ayahnya. Ia menjawab ayahnya tidak ada. Kalau ada apa-apa, ia bisa mewakili ayahnya. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak, apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu.

”Ayahku selamanya membela Republik. Ia lahir di sini. Dan mati pun di sini. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. Ayahku teman baik Oei Kim Sin, pendiri Pao An Tui,” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong.

Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya, tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya. Ling-Ling melolong-lolong. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong, sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. Setelah korbannya ambruk, mereka kabur dari tempat itu. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya. Kedua adik A Siong keluar dari kamar, ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong.

”Aku datang terlambat. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu,” kata Hong San dengan wajah penuh sesal.

”Kita memang serba sulit. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Sementara mereka, babah-babah kaya itu, yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang- orang miskin seperti kita, walaupun kita loyal terhadap Republik. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir,” kata Sin Liong dengan nada menyesal.

”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita, kaum peranakan Cina miskin. Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku,” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Berkali-kali ia duduk dan berdiri, resah. Matanya menyelundup keluar, menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap.

”Puh, kau tidak tahu, Kakak. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. Lihat saja buktinya, orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL. Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui,” jawab Sin Liong kesal.

Keng Hong mengangguk. Memang benar, bukan hanya di Surabaya isu itu berembus. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu. Ia mengenal baik Oei Kim Sin, teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya, baik yang kaya maupun yang miskin. Mereka berteman baik sejak kecil, meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik.

”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL.”

”Benar, aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu,” kata Hong San yang dari tadi diam saja.

”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong.

”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya, dan tidak banyak terpencar-pencar. Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah.”

”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun, kepala Pao An Tui Semarang?”

”Benar. Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita.”

”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal,” kata Hong San.

Seseorang mengetuk pintu. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu, tapi ditahan Keng Hong.

”Siapa?!” bentak Keng Hong.

”Aku, Mei Lan, Kakak Hong. Bukalah pintunya,” jerit perempuan di luar pintu. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya.

”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan.

”Aku takut di rumah sendirian. Semua cahaya di rumah kumatikan. Tadi baru saja ada orang mengintip,” kata istrinya sambil menggigil. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong.

”Kau gantilah pakaianmu. Masuklah, tidur di sini, temani kami,” katanya dengan suara parau.

”Sekarang apa yang harus kita lakukan, Kakak Hong?” tanya Hong San. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. Nyawa harus dibayar dengan nyawa.”

Keng Hong tertawa samar dan kecut. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5. Tidak hanya puluhan, tapi ratusan, terbunuh sia-sia. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban. Ia telah tercebur ke dalamnya. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu.

”Tidak, aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut,” katanya pelan.

”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik. Anakmu sendiri menjadi korban, dan kau diam saja,” kata istrinya sambil terisak, meninggalkan mereka. Suara tangisannya pecah, meresahkan malam yang basah.

”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can, dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu, dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya,” kata Hong San.

”Aku juga sudah tahu desas-desus itu. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja. Di Semarang, kita telah membagi dua kekuatan. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya,” kata Keng Hong. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya. Tapi aku sangat lelah. Lebih baik kutangguhkan besok pagi.”

”Kakak beristirahatlah. Aku akan di sini sampai pagi. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua,” kata Hong San. Ia melonjorkan kaki di atas dipan. Sementara Sin Liong menggelar tikar, lalu menelentangkan tubuhnya di lantai.

Malam turun semakin sunyi.

Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. Firasatnya tak enak. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya. ”Kau telah menjadi tumbal untukku, Siong. Dan tumbal kaum kita. Tumbal revolusi kemerdekaan Republik. Mimpi orang-orang kecil macam kita. Aku bangga memiliki anak sepertimu. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat,” katanya dalam hati. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya.

”Kakak, ada seseorang mengendap-endap di luar. Apa yang harus kita lakukan,” bisik Hong San.

Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya. ”Bangunkan Sin Liong,” katanya.

”Sudah. Dia menunggu di samping pintu,” jawab Hong San.

”Mereka benar-benar meneror kita.”

Keng Hong mendekati pintu depan. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah.

”Cuma ada satu orang. Kita sergap saja dia,” katanya.

”Jangan terjebak. Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar,” kata Keng Hong.

Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah, tercekam ketakutan. Di antara rentetan senjata api, Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya, sebat. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. Dalam hitungan detik, orang itu kembali berlari menjauh dari pintu. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk.

Lama mereka tiarap. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam, Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. Perlahan-lahan, ia membuka selot pintu, lalu membukanya. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. Diambilnya korek dari kantong celananya. Ia membaca tulisan itu.

”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan.”

Mereka berpandangan satu sama lain. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit. Kedua belah pihak mencurigai kita,” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. Kedua adik iparnya memandang bingung, tak tahu mesti berbuat apa.

Yogyakarta, 13 Januari 2005

Catatan:

1. Barisan Polisi Keamanan Kota, suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya.

2. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China.

3. Panglima Tentara Belanda, NICA, di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda. Ia mati bunuh diri tahun 1949, begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit.

4. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15.

5. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949, komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China.


View the original article here

Cerpen Kompas: Lukisan Bergetar

Cerpen Kompas Jangan bertanya padaku si anak durhaka mengenai Ibu, perempun yang disapa dengan sepenuh keagungan jiwa, pemujaan, permohonan doa dan restu. Aku tak mau mengenal Ibu. Aku telah dititipkan Ibu pada saudara sepupunya, perempuan bawel yang mempekerjakanku serupa budak. Aku lari dari keluarga perempuan bawel itu, dan menemukan duniaku sendiri, bekerja, hingga membeli rumah tua yang kini kutempati.

Aku terperanjat ketika datang ke rumahku seorang gadis dengan pandangan yang berkaca-kaca. Ia mencari ibu kandungnya. Perempuan dalam lukisan di ruang tamuku, dikatakan sebagai sosok Ibu yang dicarinya. Ditatapnya lekat-lekat lukisan itu. Sebuah lukisan perempuan berbaju hijau lumut, berkain, duduk menyamping di kursi ukir. Lukisan itu telah dipakukan di dinding ruang tamu, barangkali setua bangunan ini. Tak kutemukan keterangan apa pun mengenai lukisan itu, hingga datang seorang gadis, yang bertanya, di mana perempuan dalam lukisan itu.

Sama sekali aku tak mengerti, di mana sekarang perempuan dalam lukisan itu tinggal. Apa peduliku dengan perempuan itu? Pada Ibu yang melahirkanku, ketika ia sakit dan meninggal dunia, tak kutengok sekejap pun. Ia dimakamkan, tanpa kehadiranku. Dua adik perempuanku yang tak pernah disia-siakan Ibu sepertiku berkali-kali meneleponku. Tak kubalas.

Lalu, apa artinya kini, melacak seorang ibu dari sebuah lukisan? Lukisan itu telah menjadi satu dengan dinding, semenjak rumah tua itu kubeli. Sama sekali aku tak terganggu dengan lukisan itu, sampai datang seorang perempuan muda itu dari kota yang jauh. Ia mencari pemilik rumah, seorang ibu yang dilukis dan terpasang di dinding ruang tamu. Melacak wanita dalam lukisan, yang lengkung alisnya tergores lembut, dengan sepasang mata memendam perhatian. Garis bibir dan dagu menampakkan kesepian yang panjang dan tertahan.

Lukisan itu selalu bergetar pada saat angin berembus lewat pintu ruang tamu yang terbentang. Lukisan itu tepat berhadap-hadapan dengan pintu, dan setiap saat angin menggetarkannya. Perempuan dalam lukisan itu seperti bergerak dari bingkainya.

Perempuan muda itu memandangi lukisan yang bergetar dengan mata yang berkejap. Sepasang mata yang penuh harap.

Antarkan aku ke rumah Ibu!

Aku masih tergagap. Merasa asing dengan permintaannya. Tak pernah aku mendatangi Ibu. Apalagi mencarinya. Hingga Ibu jatuh sakit, terbaring koma lebih dari sepuluh hari, dan pada akhirnya meninggal di hari kesebelas, aku tak menengoknya. Telepon rumah berdering berkali- kali. Tak berhenti berdering. Kututup kembali. Kubiarkan mereka dua adik perempuanku  menelepon dan mencaci-maki. Aku tak peduli.

Maaf, aku tak bisa menemanimu.

Kalau begitu, beri aku alamat Ibu.

Perempuan muda itu memendam sorot mata yang penuh harap dan cemas. Hari sudah larut. Ia belum beranjak dari rumahku, wajahnya tampak ragu. Tapi aku tak mau jatuh iba padanya. Aku tak ingin melihat dia bertemu dengan ibunyaĆ¢€”wanita yang telah melahirkannya.

Telah kuputuskan mencari Ibu. Tak kusangka akan sesulit ini. Sekalipun Ibu telah membuangku, tak akan kucemooh dia. Aku ingin bertemu dengannya.

Di pelataran rumah, dia masih membujukku untuk menemani mencari ibunya. Kutolak. Kali ini suaraku dingin. Mungkin ketus. Aku memang harus memperlihatkan pendirianku padanya. Aku tak suka melihat raut wajahnya yang cengeng.

Lelaki pemilik rumah itu sungguh menjengkelkan. Dia tak mau mengantarkanku mencari alamat Ibu. Baru pertama kali aku menginjakkan kaki di kota kecil kelahiranku ini. Dua puluh tiga tahun orangtua angkatku membawaku meninggalkan kota kecil yang sepi ini. Baru seminggu yang lalu, ketika aku hendak dilamar calon suami, kedua orangtua angkatku berterus terang. Kau masih memiliki seorang ibu ya, perempuan yang mengandung dan melahirkanmu. Ia tinggal di sebuah rumah tua, dengan arsitektur lama. Kulacak. Kutemukan rumah yang kokoh, tinggi, dan kusam. Tapi aku tak menemukan Ibu. Rumah itu sudah dijualnya. Dan lelaki muda yang telah membeli rumah Ibu, alangkah tolol dia. Sama sekali tak mau menolongku.

Hanya lukisan tua itu yang menghiburku. Setidaknya, aku sudah melihat wajah Ibu semasa muda. Bermata teduh, dan sekelam lumpur yang dalam. Mungkin lumpur itu menenggelamkan seseorang. Aku tak paham, barangkali lelaki-lelaki terperosok ke dalam lumpur mata itu. Orangtua angkatku tak memberi tahu siapa ayahku. Aku hanya diberi tahu tentang Ibu. Dan Ayah, bahkan namanya pun tak disebutkan. Apalagi wajahnya, sungguh tak kukenal.

Ketika kutemukan rumah tua, sesuai dengan alamat yang diberikan orangtua angkatku, aku merasa lega. Apalagi di dinding ruang tamu pemuda itu terpasang wajah Ibu. Wajah wanita yang menanggung kesepian yang terpendam. Kurasa aku sudah dekat bersua Ibu. Tapi aku cuma menemukan lukisannya. Sama sekali tak kutemukan jejaknya. Mungkin aku masih jauh bersua dengannya.

Mestinya pemuda pemilik rumah itu bisa membantuku. Dia memilih tak mau tahu persoalanku. Ia menutup diri, dan aku telah gagal membuka hatinya. Ia tenggelam ke dalam dirinya sendiri. Dan aneh, bagiku, bagaimana mungkin seorang lelaki yang mencapai usia tiga puluh seperti dia, tanpa istri dan anak, malah berhasrat memenjarakan diri?

Larut malam, tak ada taksi yang bisa kusewa untuk melacak rumah Ibu. Kota kecil ini sungguh sunyi. Kutemui beberapa becak yang diparkir di tepi jalan raya dengan pengayuh yang tertidur di dalamnya. Mereka tak memerlukan penumpang. Ini kota tua. Kota yang mati pada malam hari. Orang tak berani melintas di jalanan. Lampu-lampu pun remang-remang, dan kelelawar berseliweran dengan kepak sayap yang memperpekat sunyi. Langit di atas kota serupa selubung kain yang mudah koyak.

Kudapatkan sebuah hotel kecil, tua, dengan kamar yang melapuk pintunya, aus catnya, dan berdebu. Kecoa berseliweran. Nyamuk berdenging merubung tubuhku. Bagaimana aku bisa tidur di kamar serupa ini? Segelas teh dan sepotong kue yang dihidangkan pun terasa basi. Tak mungkin aku beristirahat dengan suasana jorok macam ini.

Berjalan-jalan meninggalkan kamar hotel, aku ingin menghirup udara malam kota tua ini. Barangkali aku akan menemukan rumah Ibu. Ingin kutebus kehinaanku sebagai perempuan tak beribu, yang hanya mengenal orangtua angkat. Getir rasa hatiku tak mengenal ibu kandung. Aku ingin sebagaimana layaknya seorang gadis yang dipinang calon suami, bisa mempertemukan dengan ibu kandung. Bahkan mungkin bisa mempertemukan dengan kerabatku. Tak hanya orangtua angkat yang bisa kutunjukkan pada keluarga mempelai lelaki.

Tapi kini, di kota tua ini, aku mesti berjalan sendirian mencari Ibu. Kalaupun calon suamiku memutuskan untuk meninggalkanku, karena aku tak memiliki ibu kandung yang bisa kupertemukan dengannya, aku harus rela. Aku tak berhak mencegahnya.

Terus melangkah dalam sunyi malam yang gelisah, sampailah aku di alun-alun, di bawah pohon beringin, di dekat penjual wedang ronde. Seorang lelaki tengah duduk mencangkung. Menikmati kesunyiannya. Aku merasa sangat mengenal lelaki itu. Memang betul. Dialah pemilik rumah tua, yang baru saja kutinggalkan. Duduk seorang diri. Terperanjat sebentar menatapku. Kutemukan lelaki muda itu tengah menyendoki wedang ronde. Hati-hati, pelan sekali, ia meletakkan minumannya, seperti tak pernah mengenalku. Mungkin ia tak mau bertemu dengan siapa pun. Lelaki itu terasing dan memilih jalan sunyi. Ia memang berpura-pura tak mengenalku. Sepasang matanya mengusir, menolak, bahkan memusuhiku.

Aku masih berharap kau mau menemaniku mencari Ibu, pintaku.

Larut malam begini?

Bila tak kuantar, aku tak tahu jalan.

Memandangiku dengan mata yang keropos, lelaki itu mencairkan kebenciannya padaku. Mata itu berkabut. Aku menatapnya dengan hangat. Dan kabut dalam mata itu lenyap. Lama. Lambat-lambat. Matanya mulai bersahabat. Dia tak lagi menyembunyikan muka dariku.

Kami berjalan bersama dalam samar cahaya bulan, tanpa tegur sapa. Dia melangkah dengan suara kaki yang pasti. Tak seorang pun kami temui di jalan. Hanya anjing-anjing buduk yang mengais-ngais sampah, sesekali melintas. Kami melangkah dalam diam. Menyusur jalan lengang, berkelok-kelok, kian jauh dari jantung kota, dan memasuki perkampungan.

Langkah kakiku sudah penat ketika kami mencapai sebuah rumah yang diduga pemuda itu ditempati Ibu. Tengah malam lewat, kami memasuki pelataran rumah tua dengan tembok mengelupas dan berlumut. Gelap. Kusentuh pintunya. Berderit terbuka. Di dalam pun tak terlihat seseorang. Tanpa cahaya. Kelelawar terbang menerobos celah pintu. Laba-laba bergerak menggetarkan jaring-jaringnya.

Dengan cahaya korek api kami menjelajahi seluruh ruangan. Rumah tua ini memang sudah ditinggalkan penghuninya. Debu, lumut, dan lembab udara, menyesakkan dada. Aku berhenti lama di depan pintu sebuah kamar. Barangkali di sinilah Ibu tidur. Kupandangi. Dan kubayangkan Ibu tergolek. Sendiri. Tatapannya menerawang. Kalau Ibu tengah terbaring di kamar ini, tentu aku akan menyempatkan diri bertanya. Kenapa Ibu memberikanku pada orang lain?

Barangkali pertanyaan ini akan menyakitkan Ibu. Tapi ini akan meruntuhkan beban yang menekan bergelayut dalam kepalaku. Toh Ibu kata orangtua angkatku tak memiliki anak selain aku. Apa lagi yang dirahasiakannya dariku?

Mari kita pulang! ajak pemuda itu, pelan.

Pulang?

Ya. Menginaplah di rumahku.

Membayangkan perempuan muda itu, sambil memandangi lukisan yang bergantung di ruang tamu, aku mulai sadar kini, mereka memang mirip. Malam itu ketika perempuan muda itu tidur di kamar depan, aku sempat memandanginya. Aku tersihir. Terkesima. Dialah perempuan dalam lukisan itu. Tubuhnya bergeletar. Aku seperti terisap untuk mendekatinya, lebih lekat, lebih lekat, menyatu ke dalam kesunyian yang mula-mula lembut, dan lambat laun bergelora, mengempas-empaskanku.

Tak kutemukan perempuan muda itu saat aku terbangun. Dia sudah menghilang. Mungkin sudah kembali pulang. Mungkin ia mencari ibu kandungnya. Aku tak berselera melakukan apa pun. Cuma memandangi perempuan dalam lukisan itu. Tiap kali angin berhembus, lukisan itu bergetar. Tapi kali ini dadaku pun bergetar. Tak bisa kuredakan.

Malam ketiga setelah perempuan muda itu menghilang, aku tak kuasa menahan diri. Aku menanti fajar untuk melakukan perjalanan. Telah kuputuskan untuk melacak perempuan muda itu. Tak mungkin kutunda lagi. Aku merasa keropos. Tak ingin kurasakan kekeroposan hati kian menjalar melapukkan seluruh persendianku. Ingin kutemukan rumah tempat tinggal perempuan itu. Ini sungguh mendebarkan, serupa memasuki permainan masa kanak-kanak bersama teman-temankuĆ¢€”sebelum aku direnggut dari dunia itu untuk mengikuti saudara sepupu Ibu. Akan kucari perempuan titisan lukisan di ruang tamu. Biar kuajak dia ke rumahku, dan kutemani mencari ibu kandungnya ke mana pun, sampai ketemu.

Pandana Merdeka, Agustus 2005


View the original article here

Cerpen Kompas: Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas

Cerpen Kompas Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar, dalam nanar, matahari membelah, menjelma kerumun bulatan pijar. Dan gedung-gedung, dinding-dinding kaca, menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Begitulah terik, siang memanggang meringkus dirinya. Tetapi bukan itu. Di sana, di puncak monumen, ada sebuah titik, amat terang, seperti bintang.

Mungkin tak tepat disebut ”amat terang” karena titik cahaya itu benar-benar menyilaukan, tak tertahan oleh tatap. Tentu pula tak bisa disebut ”seperti bintang” karena titik cahaya itu sama sekali tak bekerlip, melainkan melesat berupa garis putih tajam yang langsung menghunjam memedihkan mata begitu seseorang mencoba bertahan. Dan, itulah yang dilakukan olehnya. Dan dari mata tuanya yang buram, kuning kelabu, selintas tampak seperti mata kayu, segera merembes air, menggenang, bergulir jatuh ke kumisnya yang menyatu dengan jenggot, jambang, yang semuanya kotor, putih pirang, meranggas tak teratur panjang dan jarang.

Tetapi takkan lama. Pedih ini akan hilang. Dan, memang. Begitu air mata menyelusup di helaian kumis lalu terasa mencapai bibir, seperti kemarin-kemarin, ribuan lingkaran hitam bagai menghambur menyemaki ruang pandangnya. Dan lalu, dengan ganjil, lelaki tua itu merasa nyaman. Lingkaran hitam yang berputar-putar, sebentar memusat sebentar menebar, seolah seperti tameng—menahan hunjam cahaya. Tetapi bukan. Bukan hanya tameng. Setelah berputar memusat-menebar memusat-menebar, lingkaran hitam itu lalu menyatu, lantas mengembang, terus mengembang. Begitulah hitam jadi kelabu, kelabu jadi samar, samar jadi terang. Begitulah semua datang, semua terbentang. Bagai melayang….

Begitulah semua datang, semua terbentang. Bagai melayang… tidak. Mungkin lebih tampak seolah rebah, seperti angin menyapu ilalang. Atau menyibak. Atau mungkin membelah. Dan lihatlah, di belahan itu rel kereta masuk bagai menusuk. Menerobos hutan, pohon-pohon dengan akar yang bergelayutan. Akar-akar yang juga bagai bersembulan, merayap turun seakan ingin menjangkau rel dari dinding-dinding bukit di kiri kanan. Dan ah, dadanya, tidakkah amat berdebar? Semuda ini. Si remaja ini. Ia akan bekerja di sebuah tambang. Tambang emas!

Bagaimana semua bisa tiba-tiba berubah? Ia sendiri tak begitu tahu. Ia hanya mendengar bom besak (bom besar, orang-orang kemudian menyebutnya bom atom) dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang menyerah, lalu proklamasi. Kata Pak Daud, segala yang dulu dikuasai Jepang kini kita yang memiliki. Begitu juga tambang emas di Lebong. Dan seperti mimpi, Pak Daud, orang kampungnya yang juru tulis gudang (mereka menyebutnya magazyn schrijver) di tambang, pun mengajaknya. Maka, di atas kereta itulah ia. Kereta api kecil (mereka menyebutnya lori) dengan empat wagon yang dibelintangi papan-papan. Di atas papan itulah ia duduk. Memandang ke luar. Berdebar….

Ia pun tiba di tambang itu: Lebong Tandai. Huah! Orang- orang dengan helm, sepatu boot, beberapa dengan lampu dan baterai di pinggang, berlalu lalang. Tampak amat sibuk, tak peduli pada apa pun kecuali pada goa-goa, yang beberapa di antaranya menjulurkan rel dengan lori-lori lebih kecil (memuat bongkah-bongkah batu—batu-batu berurat emas!) meluncur ke luar tak henti-henti. Maka, mulailah hari-hari itu. Lorong-lorong, gema lori, lift ke atas ke bawah, tangga-tangga besi. Derek (pos) I, Derek II, ledakan dinamit, langit goa yang runtuh… semua terbentang, bagai melayang… tidak. Seperti hamburan. Berlompatan. Letusan? Belanda kembali datang. Menyerang tambang….

Bagaimana mereka bisa bertahan? Heran. Tetapi memang, pasokan senjata berdatangan. Kata kawannya konon karena dibeli dengan emas tambang. Bahkan Gubernur Militer pun (siapa namanya? Ia lupa) bergabung dengan mereka. Dan Belanda pergi. Masa berganti. Melayang… tidak. Kini tertahan, bagai mengambang. Dan wajah-wajah itu muncul. Makin jelas. Wajah-wajah yang datang dari keresidenan. Membujuk, meyakinkan mereka: emas dibutuhkan Jakarta. Di masa damai—untuk apa? ”Untuk Monas,” kata mereka. Monumen Nasional. ”Pusat juga perlu tahu bahwa di tanah kita, Bengkulu, ada banyak emas….”

Pernahkah kaulihat matahari begitu banyak? Atau turun merendah seolah mencecah? Dalam lapar, dalam nanar, matahari membelah, menjelma kerumun bulatan pijar. Dan gedung-gedung, dinding-dinding kaca, menggandakan semakin banyak lalu memantulkan. Tetapi ya, bukan itu. Di sana, di puncak Monas, ada sebuah titik. Titik putih, tajam pedih, menghunjam mata. Apakah hanya matanya? Karena hari ini, lihat, ada seseorang yang juga mendongak menatap ke sana.

Orang itu masih muda, berkacamata, menyandang tas di bahu kirinya. Apakah mahasiswa? Karena tegak di tempat yang tak mencolok, di sebelah dua orang yang berlindung ke gerobak penjual rokok, ia tak tahu sejak kapan si pemuda ada di sana. Sejak kapan pulakah pemuda itu menatap ke puncak Monas? Apakah sesuatu juga terbentang, bagai melayang, dalam kepalanya? Tentu tidak. Yang pemuda itu tahu—seperti juga orang-orang tahu—ada 30 kilogram emas di sana, disepuh ke 77 bentuk berupa lidah. Tujuh puluh tujuh lidah yang dipesan dari Jepang. Dibuat di Jepang, dipasangkan di sini juga oleh orang-orang Jepang.

Tiba-tiba si pemuda menoleh, menatap ke arahnya. Tak enak ketahuan mengamati, ia mengalihkan pandang. Tetapi hei, tatapan itu. Kacamata itu. Refleks, kembali ia palingkan muka. Kacamata itu. Tatapan di balik kacamata. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. Cuping hidung besar….

Tatapan di balik kacamata. Bingkai kacamata dari plastik keras coklat tebal. Cuping hidung besar berkilat yang melengkung naik… apakah memang diciptakan untuk menyangga bingkai kacamata yang tampak seperti berat? Dan mulut itu, mulut dengan bibir tipis melipat hingga terkesan bagai diisap dari dalam, kini tersenyum. ”Begitulah yang orang-orang dengar, Dik Najir, emas Monas itu didatangkan dari Jepang.”

Yang orang-orang dengar. Ia tak suka kalimat tak jelas itu. Dari jauh ia datang karena yakin Nur, anak Pak Daud, tak mungkin menyampaikan hal yang tak pasti. ”Ma-maaf, Pak Jusuf,” katanya. ”Tapi, yang ingin saya tahu yaa… itu, emas yang kita sumbangkan dulu.”

Pak Jusuf inilah, setelah Pak Daud meninggal, yang diangkat jadi juru tulis gudang. Jabatan terakhirnya selaku pembantu kepala bagian mesin tumbuk (mereka menyebutnya molen assistant), memungkinkan Pak Jusuf tahu aliran sumbangan emas untuk Monas itu. Wajah bulat berkacamata dengan bingkai plastik keras coklat tebal ini, seingatnya, dulu merupakan sosok sederhana, apa adanya. Tetapi, kenapa kini berbeda? Senyum itu… terasa ganjil. Ia tak suka. Agaknya ia harus terus-terang.

”Saya membutuhkannya. Untuk modal, coba berdagang.”

Senyum itu masih, tapi mata di balik bingkai besar itu berubah. Setelah merenggangkan tubuh dari sandaran kursi, mendehem beberapa kali, Pak Jusuf berkata, ”Saya paham, Dik Najir, saya mengerti. Tetapi,” senyum itu kembali, ”saya punya usul. Jalan yang lebih baik.”

”Jalan yang lebih baik? Maksud Pak…,”

”Begini,” mendehem lagi. ”Dulu, di tambang itu, kita berjuang. Lihatlah kini diri Dik Najir. Maaf… cacat. Satu kaki tak ada. Saya akan membantu, membuat usulan agar Dik Najir dapat tunjangan veteran.”

”Ah tidak! Mana bisa. Kaki saya putus bukan karena berperang. Tapi karena dinamit itu, langit goa yang runtuh….”

”Tenang, Dik Najir. Itu gampang. Saya…”

”Tidak, Pak Jusuf. Saya tak mau. Saya… maaf, saya kemari hanya untuk hal itu, soal sumbangan emas Monas yang dipulangkan. Dari anak Pak Daud saya tahu bahwa emas itu dikembalikan melalui Pak Jusuf.”

Lelaki berwajah bulat (dengan tubuh yang kini juga tak kalah bulat) itu menarik napas, seperti kecewa. Kembali disandarkannya tubuh ke kursi, mendengus, lalu berkata, ”Sebetulnya bukan dikembalikan, melainkan disalurkan.”

”Maksud Pak Jusuf?”

”Yah, disalurkan. Jadi, begini, baiklah saya terangkan.” Diperbaikinya duduk, seperti mencari lagi posisi yang tepat. ”Emas itu memang ada pada saya, tapi jumlahnya tak lagi sama. Ketika saya tanyakan kenapa tak sama, mereka bilang ada yang digunakan. Ketika saya tanyakan digunakan untuk apa karena toh kita dengar emas Monas didatangkan dari Jepang, mereka katakan bahwa begitulah keterangan dari atas, mereka hanya meneruskan. Dan karena jumlahnya sedikit, emas itu tak usah dibagikan. Sumbangkan saja, kata mereka, ke masjid atau ke sekolah atau ke apa di Lebong sini. Tidakkah itu berarti disalurkan?” Mata di balik bingkai besar itu menatap ke matanya, bagai mencari persetujuan. Lalu, ”Nah, Dik Najir tentu bertanya-tanya, sesedikit apakah emas yang mereka pulangkan hingga tak pantas buat dibagikan.”

Ragu, ia mengangguk.

Pak Jusuf mengeruk saku celananya, mengeluarkan dompet. Jemarinya merogoh, menjepit sesuatu ke luar dari dalam dompet lalu mengacungkan ke muka: uang logam satu rupiah. Kemudian katanya, ”Bila saya bagikan kepada seluruh buruh dan karyawan yang bekerja waktu itu, Dik Najir, maka masing-masingnya cuma akan dapat segini. Tak lebih.”

Satu rupiah? Ia ternganga. Hanya satu rupiah?

Seperti tahu keheranannya, Pak Jusuf mengangguk. Lalu, iseng, Pak Jusuf melambungkan koin satu rupiah itu tinggi, nyaris menyentuh loteng. Ketika koin itu bergerak turun, ketika berada pada satu titik antara loteng dan tangan Pak Jusuf yang siap menyambut, ketika itulah… terjadi peristiwa itu! Peristiwa yang takkan bisa ia lupakan: koin itu berhenti, tertahan bagai mengambang. Semua tak bergerak, diam….

Koin itu berhenti, tertahan bagai mengambang. Semua tak bergerak, diam. Meja, kursi, taplak, gorden, semua perabot di ruang tamu Pak Jusuf tampak seperti beku. Senyap. Bahkan udara pun seperti mati. Waktukah… yang berhenti? Dan Pak Jusuf, astaga, kelihatan seperti patung. Wajah bulatnya tengadah. Mata di balik bingkai besar itu menganga, menatap ke arah koin, tak berkedip. Mulutnya terbuka, hingga bibir tipis yang melipat itu benar-benar tampak. Tangannya yang terangkat, yang siap menyambut koin, kaku tergantung.

Sepuluh, dua puluh, atau mungkin tiga puluh detik. Saat koin itu bergerak turun, bersamaan dengan gerak tangan Pak Jusuf menyongsong, semua kembali seperti biasa. Tapi ajaib, koin satu rupiah itu tak tersambut. Ia terus meluncur, jatuh menimpa lantai:

”Triiingngng…!”

”Triiingngng…!”

Lelaki tua itu terkejut, tersentak. Bukan koin satu rupiah 40 tahun lalu itu, tetapi koin 1.000 rupiah yang barusan berdenting masuk ke kalengnya. Siapa yang menjatuhkan? Tak kalah terkejut, matanya segera menangkap sosok itu: si pemuda. Pemuda kacamata yang kini telah menjauh beberapa langkah. Betulkah?

Betul. Sepertiku, tidakkah tadi pengemis tua itu juga menatap ke puncak Monas? Buntung, teronggok di trotoar, kulitnya merah menghitam bagai terpanggang. Dan, mata itu, sekilas tampak seperti mata kayu, tidakkah berair bagai menangis? Pusing, lapar, di puncak sana berkilauan 77 lidah emas, aku tahu yang ia rasakan…. Tetapi mendadak, langkah si pemuda terhenti. Koin itu! Ribuan kedua! Ribuan kedua terakhir yang dipunyainya. Dengan hanya seribu, bagaimana aku bisa pulang ke tempat kos? Refleks, si pemuda membalikkan tubuh. Diayunnya kaki, tapi kembali tertegun. Apa yang ia lakukan? Meminta 1.000 rupiah itu kembali?

Konyol. Dungu. Tiba-tiba ia merasa letih. Muak. Mencari kerja terus. Memasukkan lamaran terus. Tetapi ia telah di sini, di hadapan si pengemis. Dan mata itu, mata habis menangis kuning kelabu bagai mata kayu, menatap heran ke matanya seolah bertanya: Kenapa kembali? Ada apa?

Salah tingkah, asalan ia berkata, ”Maaf, berapa umur Bapak?”

”Oh…” Si pengemis seperti lega. ”Tujuh puluh tujuh.”

Tujuh puluh tujuh? Bagai bukan angka yang asing. Tujuh puluh tujuh? Eh, tujuh puluh tujuh lidah emas….***

Payakumbuh, 17 Agustus 2005

View the original article here

Monday, 25 March 2013

Cerpen Kompas: Radio Transistor

Cerpen Kompas Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai, tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini.

Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu, arus sungai menjadi sangat deras. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan.

Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Tak ada yang peduli. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan, pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Beberapa ratus meter ke arah bukit, terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu, selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. Terlalu angker, kata mereka.

Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Hampir-hampir tak ada privacy. Bahkan, aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu.

Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Rencananya, jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Kakek Lido, suaminya, sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar.

Dua anak gadisnya, Jona dan Warni, berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat, tepat di atas ranjang keduanya. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Dua orang gadis tangguh. Tak hanya secara fisik, tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak- anaknya. Tak terhitung dukun yang didatanginya. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda.

Tak lama, upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Tak ada apa-apa. Gelap.

Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya, kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Saat istrinya membopong pisang, jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu, Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek.

Nenek Lido bertubuh subur. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah, senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Konon, nenek Lido dulu cantik. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. Kata ayahnya, terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Lagipula, mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis, segar, dan kuat seperti ibunya.

Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai, dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak… kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Tapi kakek belum tertidur. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu.

”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. Alu kita patah,” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Tak jelas ia berbicara dengan siapa.

”Kata Nisa, kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu,” kata Nenek Lido lagi. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah.

Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Terdengan pelan suara krek… krreek… krreeek dari loteng. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Rumah panggung itu bergerak. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Akh, angin semakin kencang, pikirnya. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia, namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. Tiba-tiba.

”Siapa kamu? Aaakkhh… Kindo,” Jona dan Warni menjerit. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Baju Jona telah robek di bagian depan.

Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir.

”Siapaa…?” teriaknya setengah melompat.

”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis.

Dengan keras, Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Lelaki itu tersentak keras. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Dengan sekali mengayunkan tangan, Rappe, jawara kampung sebelah, menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Dari arah belakang, Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Rappe semakin marah. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang.

Nenek Lido melengking marah. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Rumah panggung itu bergoyang keras. Dalam gelap, Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Rappe mundur. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Sebilah pedang pendek. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan.

Dalam gelap, sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Maka, dengan secepat kilat, nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya ke depan pintu kamar. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Cresss… Berhasil. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis, ”Kindo…..”. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan.

”Dia sudah pergi. Nyalakan lampu,” Nenek Lido menyuruh Jona. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Dengan susah payah, Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. Tangannya gemetar dan nyeri. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah, kepalanya juga. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. Tapi Nenek Lido tidak menangis.

Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari, bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah.

Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Saat mendekati sakratul maut, Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Entah apa. Tak ada yang tahu. Kakek tak bereaksi apa-apa. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Hanya itu.

Jakarta, 4 November 2005


View the original article here

Cerpen Kompas: Sayap Kabut Sultan Ngamid

Cerpen Kompas Ya, kau juga tahu, hari itu, Minggu 28 Maret 1830, Ramadhan telah berlalu. Karena itu, dalam lukisanku, aku yakin kabut lembut dan matahari susut saja yang mengepung Rumah Karesidenan itu. Tak ada gerimis riwis yang menghardik tiang-tiang tua. Tak ada pula petir mendera Merapi yang samar mengonggok di bumi fana. Jadi, sangat tak keliru jika kutorehkan warna terang di sekujur kanvas. Tak salah jika kukesankan Allah menebarkan cahaya cokelat keemasan di wajah siapa pun yang menyaksikan de Kock menghardik sang Pangeran.

Bau wangi tanah masih mengepul saat terjadi keributan. Jejak suara unggas juga belum terhapus dari ingatan. Dan orang-orang, terutama aku, percaya tak akan ada pertempuran selama dan sehabis Ramadhan. Karena itu, sekalipun de Kock membentangkan tangan memerintah Pangeran menuju kereta yang akan membawa ke pengasingan, aku tetap tak ingin mengubah kegentingan itu menjadi Lebaran sedih berwarna muram.

Memang keheningan dan kebeningan menguar dari pagi yang baru mekar, tetapi aku tak mungkin menorehkan kabut dan dingin Magelang terlalu dalam di kanvas. Jadi, sekalipun dikepung wajah-wajah tegang staf de Kock dan disaksikan rakyat dalam sedu-sedan, Pangeran harus kulukis tegak menantang. Hanya aku saja yang boleh sedih. Hanya aku—yang kausangka telah belajar teknik melukis dari Horace Varnet dan Eugene Delacroix—boleh menyusupkan diriku pada wajah prajurit yang takzim membungkuk di hadapan Pangeran dan pasukan cemas yang mewaswaskan nasib sang Junjungan. 1

Andaikata Raden Saleh hadir di Rumah Karesidenan bersama Pangeran Dipanegara Muda, Raden Mas Joned, dan Raden Mas Raib2 pada 28 Maret 1830 yang ajaib itu, mungkin dia tak akan melukiskan Sultan Ngamid sebagai pangeran bersorban saja. Ya, jika dia berdiri di dekat Haji Ngisa dan Haji Badarudin—penasihat-penasihat agama terkasih Pangeran—pasti lukisannya tak akan sekadar menggambarkan Sultan Ngamid sebagai manusia biasa.

Sebab dalam pandangan Haji Ngisa yang masih sangat awas, ketika ketegangan terjadi dan Jenderal de Kock mengharap Pangeran agar segera naik kereta, di kedua bahu Sultan tumbuh sayap Rajawali ungu yang menyilaukan mata. Sayap-sayap itu seakan tak sabar menerbangkan sang Junjungan ke langit suci, ke langit sarat sriti. Namun di luar dugaan, Sultan Ngamid menanggalkan bulu-bulu indah yang barangkali diberikan oleh Malaikat Jibril itu. Bahkan dia memberi isyarat pada Haji Ngisa agar tak terpesona pada setiap keajaiban yang mengucur setelah seseorang khusyuk berpuasa. Lewat bisikan batin, Sultan juga meminta agar Haji Ngisa tak perlu takjub pada segala peristiwa tak masuk akal yang menyelimuti Rumah Karesidenan yang telah dikepung para serdadu itu.

Haji Ngisa yang telah mengerti betapa kegaiban bisa menghunjam kepada siapa pun yang dipilih Allah hanya mengangguk. Sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir, dia juga memberi isyarat kepada panakawan Banthengwareng dan Jayasutra agar tak memekik. Haji Ngisa tak ingin pekikan ketakjuban itu akan mengganggu takdir Allah yang telah ginaris. Dia tak ingin de Kock atau Valck, Residen Kedu berwajah batu itu, terkejut dan kemudian lari tunggang langgang. ”Segalanya sudah diatur,” desis Haji Ngisa, ”bahkan mungkin Jibril pun dititahkan tidur dan tak mencampuri segala yang terjadi dalam silaturahmi indah ini.”

Haji Ngisa tahu benar jika Sultan Ngamid tak menanggalkan sayap atau menyemburkan kelabang beracun kepada lawan, Roest, de Stuers, atau Perie akan menganggap Sultan menciptakan sihir dan menghina para perwira yang mengajak berunding menghentikan Perang Jawa itu. ”Kalau mau Sultan Ngamid bisa menghilang. Kalau mau segala yang ada di Rumah Karesidenan ini bisa dikutuk menjadi batu. Nah, apakah Sampean mau dikutuk jadi tengu?”

Karena itu, Haji Ngisa lebih memilih memandang kilau senapan dan pakaian para serdadu yang dipimpin du Peron di anjungan dalam ketimbang menatap wajah Sultan Ngamid yang karena terlalu benderang tak lagi bisa dipandang.

”Sampean juga jangan menatap wajah Sultan, Jenderal. Kalau berani menatap, hati Sampean bisa terbakar,” desis pria yang senantiasa berzikir itu teramat pelan.

Tentu de Kock tak mendengarkan isyarat halus itu. Tentu dia tak terlatih menangkap pertanda yang hanya berupa gelengan kepala Haji Ngisa itu. Ya, memang tak semua tanda bisa diraba dan membuncahkan makna. Tetapi, mengapa sejak pemandangan menakjubkan itu terjadi, de Kock tidak peka? Mengapa dia tak membiarkan Sultan Ngamid pulang setelah selesai bersilaturahmi?

”Mengapa saya tidak diperkenankan pulang, Jenderal? Apa yang harus saya lakukan di sini? Saya datang dengan bersahabat semata-mata untuk kunjungan singkat sebagaimana yang diadatkan oleh orang Jawa setelah mereka selesai berpuasa selama sebulan.3 Saya datang tidak dengan keris terhunus dan pedang meradang.”

”Saya ingin menyelesaikan persoalan kita hari ini juga,” kata de Kock.

”Jadi, Anda ingin mengadili saya? Anda ingin mengajak berkelahi? Jika itu yang Jenderal inginkan, saya tak membutuhkan keadilan dari tangan Sampean. Jika ingin berkelahi, saya pun tak mau berkelahi dengan Sampean.”

Ya, saat mendengarkan semburan kata-kata semacam itu Haji Ngisa berharap de Kock segera mengurungkan niat menangkap dan mengasingkan Pangeran. Namun, de Kock tak punya alasan untuk tak segera melakukan perintah Johannes van den Bosch. Telinganya bahkan lebih berisi instruksi-instruksi sang Gubernur Jenderal ketimbang luapan amarah Sultan Ngamid. Bahkan jika tak mungkin menangkap atau membunuh Sultan Ngamid, de Kock pun sudah punya cara untuk menaklukkan Pangeran. ”Saya akan mempreteli kekuasaan Sampean dengan cara apa pun, Pangeran. Kalau perlu saya akan menggorok leher perempuan-perempuan terkasih Anda pada Lebaran hari ketiga. Setelah itu, saya tembak putra-putra Sampean. Dan, jangan lupa Haji Ngisa dan para panakawan juga kami jebloskan ke sumur tua.”

Sultan Ngamid bisa membaca pikiran de Kock. Karena itu, sambil mendongakkan kepala, dia menyemburkan amarah terakhir kepada Jenderal yang kini telah dia anggap sebagai penjahat paling hina itu. ”Hei, Jenderal, ketahuilah, saya yang sejak dulu Sampean panggil sebagai Pangeran Dipanegara4 tidak takut mati. Saya siap dibunuh kapan pun. Kematian toh hanya kabut halus. Kematian toh hanya tirai yang memungkinkan saya menyatu dengan istri saya di Imogiri. Sekarang, silakan bunuh saya. Saya yakin inilah puncak kemenangan yang saya peroleh setelah sebulan berpuasa.”

Haji Ngisa kian tak tahan mendengarkan semburan kata Sultan Ngamid yang menguarkan bau berbagai wangi-wangian itu. Karena itu, dia berjingkat mendekati Ali Basah Gandakusuma dan membisikkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga.

”Apakah Sultan tak mengerti akan terjadi peristiwa seperti ini, Kisanak?”

Gandakusma mengangguk. Saat itu dia justru melihat Sultan Ngamid mulai memungut sayap Rajawali ungu yang semula ditanggalkan. Dengan hati-hati dia mengenakan sayap itu. Dengan hati-hati pula, dia berseru, ”Allahu! Allahu! Allahu! Segalanya telah rampung, Gusti. Segalanya telah kukembalikan pada-Mu!”

Setelah itu, kau tahu, seperti Isa yang tersalib, dia membentangkan tangan dan mengibas-ibaskan sayap, moksa ke langit, membumbung menembus kabut, menghilang dari pandangan Haji Ngisa yang tak lagi takjub.

Mengapa tak Sampean lagi takjub, wahai Kiai waskita? Karena memang tak semua hal harus ditakjubi. Takjublah pada mengapa Sultan Ngamid berani mati pada saat ruang dan waktu memberi kesempatan untuk hidup. Takjublah mengapa dia tak menunjukkan sayap-sayap ungu itu kepada de Kock dan serdadu-serdadu yang juga dibutakan. Ketahuilah, Tuan, andaikata de Kock dan para serdadu tahu, seluruh Rumah Karesidenan akan terbakar. De Kock akan tinggal arang. Serdadu akan jadi abu tanpa jejak kehidupan. Apakah Sampean tak cemas? Aku tak bisa cemas lagi sejak de Kock kehilangan kepekaan. Jadi, Sampean tahu segalanya berakhir mengenaskan? Mengenaskan? Apa yang mengenaskan? Keajaiban sayap-sayap Jibril di tubuh Pangeran, Sampean anggap peristiwa mengenaskan? O, jadi Sultan Ngamid memang benar-benar punya sayap? Punya sayap atau tidak, bukan urusan Sampean. Urusan siapa? Urusan saya, urusan Haji Ngisa. Apakah Allah telah mengirimkan jutaan malaikat untuk mengarak Sultan Ngamid ke surga? Mengapa bertanya seperti itu? Mengapa tak boleh bertanya seperti itu? Saya kira bukan hanya saya yang melihat jutaan malaikat mengarak Sultan Ngamid ke surga. Ada orang lain yang tahu peristiwa sulapan itu? Bertanyalah pada Gandakusuma. Bertanyalah kepada pria yang setiap subuh shalat berjamaah dengan Sultan Ngamid itu. Apakah saya boleh bertanya pada de Kock? Kenapa tidak? Apakah dia akan menganggap Sultan Ngamid sebagai dajjal tak aturan? Apakah dia menangkap Sultan Ngamid karena membayangkan diri sebagai mesias yang mampu menghentikan perang?

Haji Ngisa tak mau menjawab pertanyaan itu. Sambil menggamit tangan Ali Basah Gandakusuma, dia menyingkir dari Rumah Karesidenan yang kian tampak sebagai hantu rakus itu. ”Jangan katakan kepada siapa pun apa yang Sampean lihat. Saya percaya Sampean tak akan menyebarkan sesuatu yang mungkin bisa menyesatkan umat. Ketakjuban, Sampean tahu, kadang-kadang bisa menjauhkan kita dari Sang Penabur Keajaiban!”

Ya, > 0

Meski demikian, Gandakusuma tak berani mempertanyakan segala sesuatu yang berkait dengan perang dan kematian. Tak baik pada Lebaran yang baru mekar mempersoalkan amis darah, wangi bunga kubur, dan Matesih menjelang Sultan Ngamid berunding di Rumah Karesidenan.

”Saya kira semua prajurit harus menyertai Panjenengan, Sultan.”

”Allah tak menghendaki seperti itu, Gandakusuma.”

”Maaf, Sultan, saya khawatir Jenderal de Kock akan…”

”Ya, ya, Sampean boleh khawatir. Namun, saya lebih khawatir jika prajurit kita akan mengejutkan mereka.”

”Jadi, kita hanya akan bersilaturahmi, berlebaran pada Jenderal de Kock, Sultan?”

”Ya. Jangan kaukenakan tanda pangkat atau jabatan. Kenakan saja pakaian santai sebagaimana kita hendak pelesir atau berjalan-jalan.”

Sampai pada percakapan yang kian tak terpahami itu, Gandakusma melihat sayap Rajawali ungu di bahu Sultan Ngamid kian melebar. Sayap itu kian menelan tiang-tiang dan segala yang bisa teraba dan terjamah tangan. Karena itu, sekali lagi, Gandakusuma menyangkal.

”Kita memang akan bersilaturahmi, Sultan, tetapi de Kock telah menjelma iblis. Dan sebagai iblis, dia akan membunuh siapa pun yang tak takluk pada dirinya.”

”Iblis? Kitalah yang iblis kalau tak bisa memaafkan orang-orang yang hendak membunuh dan memperdaya kita.”

Kali ini Gandakusuma tak berani menatap wajah sang Sultan. Dia tahu sebentar lagi, setelah pada pukul 08.00 Sultan berangkat ke Rumah Karesidenan, de Kock akan mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk Junjungan yang kian tak peduli pada pekik kemenangan di medan perang itu. Dia yakin benar sayap-sayap Sultan akan rontok pada saat de Kock menghardik dan memerintahkan Pangeran beranjak menuju kereta pengasingan.

”Segalanya sudah diatur oleh sang Jenderal sialan, tetapi mengapa Sultan percaya bahwa apa pun yang terjadi telah diatur oleh Tuhan dan tak lagi bisa dihindarkan?” desis Gandakusuma dalam kecamuk pikiran tak keruan.

”Sudahlah, Gandakusuma,” kata Sultan seperti mengerti segala yang dipikirkan oleh panglima utamanya itu, ”pada saat berperang pikirkanlah peperangan. Namun pada saat Lebaran pikirkanlah Lebaran. Ayolah, bersenang-senanglah bersama Jenderal de Kock dan para perwira. Nanti kuberi kuda baru. Nanti kuberi sajadah dan sorban baru. Nanti….”

Gandakusma tahu nanti dia hanya akan mendapatkan sayap yang rontok, mata yang kehilangan keperkasaan, dan jiwa yang tak lagi terpesona pada kabut Merapi. O, mengapa kekalahan begitu wangi? Mengapa ia muncul ketika puncak kemenangan hadir telanjang serupa bidadari?

Kini kau tahu bukan mengapa aku tak mau melukiskan Sultan Ngamid mengenakan sayap Rajawali ungu. Digambarkan bersayap atau tak bersayap, Sultan Ngamid adalah Sultan Ngamid. Ia akan menanggalkan apa pun yang bukan miliknya. Juga sayap dan kemegahan dunia. Juga sayap dan segala yang dicinta.

Ya, namaku Saleh, kau telah melihat Sultan Ngamid dalam lukisanku5 pada senja yang hampir kehilangan doa-doamu. Aku bahagia karena tak menganggap dia sebagai malaikat atau dewa bermata ungu.

Semarang, 19 Oktober 2005

Catatan:

1. Bagian ini bertolak dari reproduksi lukisan Raden Saleh yang terdapat dalam gambar sampul buku Dr Peter Carey, ”Asal Usul Perang Jawa; Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh” yang diterbitkan oleh LKiS, Juli 2004. Saya perlu berterima kasih kepada Sutanto Mendut yang mengingatkan saya betapa Dipanegara diperdaya Jenderal de Kock pada Lebaran hari kedua. Reproduksi lukisan itu pula yang digunakan koreografer Sardono sebagai pancatan lakon ”Opera Diponegoro”.

2. Anak-anak Sultan Ngamid.

3. Kata-kata Sultan Ngamid dalam ”Babad Dipanegara”.

4. Sultan Ngamid adalah nama tua Pangeran Dipanegara. Begitu memosisikan diri sebagai Ratu Pangageng Panatagama ing Tanah Jawi, nama Dipanegara dia berikan kepada putranya.

5. ”Historische Tableau, die Gefangennahmen des Javasnischen Hauptling Diepo Negoro”.


View the original article here

Cerpen Kompas: Di Balik Jendela

Cerpen Kompas Hal yang paling kutakuti ialah sakit. Berulang-ulang istriku menganjurkan supaya aku memeriksakan diri ke dokter. Rasa sehat bukan berarti tidak sakit, katanya. Nah, justru itulah yang kukatakan kataku, kalau-kalau dokter mengetahui penyakitku. Lebih baik tidak usah mengada-adalah! Pernah sekali aku pergi ke rumah sakit dan memeriksakan kepalaku yang ada benjolan. Kurasa benjolan itu mengganggu, bukan karena sakit, tetapi karena kalau tidur, benjolan itu sering pindah-pindah. Segera saja dokter menyuruh perawat menggunduli separuh kepalaku dan kemudian menyuruhku berbaring di atas meja operasi. Sayatan di kulit kepala membuat darah mengalir lewat tanganku menuju baskom di bawah meja. Gumpalan lemak sebesar setengah gelas dikeluarkan dan menunjukkannya kepadaku. Ada rasa ngeri dalam diriku. Mudah-mudahan itu bukan tumor ganas, kataku dalam hati. Sebulan kemudian aku diberitahu bahwa lemak itu bukanlah tumor ganas.

Sejak itu, aku menjadi takut ke rumah sakit. Sampai akhirnya, suatu ketika aku terjatuh di kamar mandi. Entah berapa lama, aku tidak tahu. Setelah sadar, aku bangkit dengan pandangan yang berkunang-kunang. Ada rasa nyeri yang menyayat-nyayat di usus. Terpaksa kuperiksakan ke dokter, dan aku disuruh harus menginap di rumah sakit. Untuk pertama kalinya aku mengenal jarum suntik yang membuatku ngeri. Perawat tanpa perasaan kurasa menancapkan jarum ke pantatku. Setelah pulang dari rumah sakit, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun aku tidak pernah lagi ke dokter.

Dengan mobil VW Kodok putih aku berangkat subuh ke Ibu Kota untuk menghadiri rapat dinas sekali sebulan. Biasanya aku tiba setengah delapan dan rapat di mulai pukul delapan, berakhir pukul satu siang. Seperti biasa, kalau pulang, aku selalu mencari teman untuk pulang. Supaya ada teman berbicara sepanjang jalan. Tetapi tidak ada yang kebetulan ke Bandung. Sendiri aku kembali. Panas Ibu Kota ditambah debu dan gas yang beterbangan, membuatku tidak betah. Rasanya udara dan kemacetan lalu lintas seperti mencekik leher. Berbeda dengan udara di luar kota yang terasa segar dengan pemandangan pepohonan yang hijau.

Entah berapa jam aku menyaksikan pemandangan yang indah, aku tidak tahu. Ketika aku membuka mata, orang yang berpakaian putih-putih kulihat mondar-mandir di kamar. Seorang perawat memegang pergelangan tanganku. Sebuah botol infus meneteskan cairan yang dingin ke tubuhku. Suster, di mana aku? tanyaku. Dengan tersenyum ia menjawab, Bapak perlu istirahat banyak. Jangan terlalu banyak bergerak.

Aku sadar bahwa aku terbaring di rumah sakit. Kuraba kepalaku yang nyeri, ternyata dibalut dengan perban. Ada rasa sakit di kaki dan tangan. Pasien sebelah kudengar merintih-rintih. Menjelang tengah malam aku dinaikkan ke atas tempat tidur dorong. Dengan lift aku tahu belakangan bahwa aku dibawa ke tingkat IV dan dibaringkan di atas tempat tidur yang rapat ke dinding. Nyeri di kepala dan bagian kaki. Perlahan-lahan rasa sakit merambat ke seluruh tubuh. Aku merintih-rintih. Seorang perawat datang dengan membawa obat dan alat suntik. Ia mengatakan kepadaku bahwa tablet yang di dalam kantong plastik kecil itu harus kuminum sesuai dengan petunjuk dokter. Kulihat perawat itu memasukkan kepala jarum ke tabung obat dan kemudian menyingkapkan pakaianku bagian bawah. Persis di pantat, jarum itu menancap. Aku mengaduh karena memang aku takut disuntik. Sejak lama aku menghindari suntikan, kalau boleh dengan menelan obat saja. Bekas suntikan itu kemudian dilap dengan kapas basah. Entah berapa lama aku tidur dengan lelap, rasa sakit tidak lagi terasa sampai pagi sudah tiba.

Dokter menerangkan bahwa cedera yang kualami tidaklah terlalu parah. Dibutuhkan waktu beberapa hari untuk memulihkan luka di kepala dan bagian kaki. Tidak ada tulang yang patah, hanya luka memar dan benturan di kepala. Aku bertanya kepada dokter apakah aku menderita gegar kepala? Dokter menerangkan bahwa lukaku tidak begitu serius.

Beberapa kali aku disuntik, setiap kali hendak disuntik tubuhku menegang dan perawat mengatakan kepadaku supaya santai saja agar tubuh jangan kejang. Beberapa kali ia menanamkan jarum itu, tetapi tidak berhasil. Kucoba menguasai perasaanku dan memikirkan hal-hal yang lain, sampai akhirnya perawat itu berhasil menyuntikkan obat yang membuatku tertidur beberapa jam.

Petang hari kedua aku mendapat kawan sekamar yang ditempatkan di tempat tidur yang menghadap jendela. Dengan menggeser kepala sedikit aku menoleh kepadanya. Kami saling menyapa. Rupanya ia pasien pindahan dari rumah sakit lain. Kulihat kondisinya tidak begitu parah karena ia masih dapat menggerakkan tubuhnya, menarik bantal ke bagian dinding dan menyandarkan tubuh bertopang bantal itu. Ia lancar berbicara dan bercerita panjang lebar mengenai penyakitnya bahwa ia menderita komplikasi yang mengakibatkan gagal ginjal. Setiap minggu ia harus mendapat transfusi darah. Cerita berikutnya tidak bisa lagi kutangkap karena suaranya bagaikan kata-kata yang samar-samar karena mungkin suntikan obat yang masuk ke dalam tubuhku sudah mulai bekerja.

Ketika makan siang usai, kawan yang di sebelahku, yang berbaring dekat jendela menyapaku. Kali ini kukira ia mengoceh lagi. Sambil menaruh dua bantal di belakang punggungnya yang bersandar ke dinding ia bercerita dengan lancar.

Aku sangat beruntung tidur di kamar ini, dekat jendela pula. Udara segar dan pemandangan sangat menyenangkan. Tadi malam, tengah malam, aku terbangun dan mengiraikan gorden jendela dan aku melihat ke luar. Di luar pemandangan yang amat mengasyikkan. Ada bintang-bintang yang bertebaran di langit. Aku melihat cahaya yang indah. Sepertinya aku bertemu dengan anakku yang telah lebih dahulu pergi ke surga empat tahun yang lalu. Ia menyapaku dengan lembut. Ia mengendarai selimut malam yang putih. Tangannya melambat memanggil-manggilku: Ayah, ayah! Ke marilah! Di sini hidup tenang dan sejahtera, damai. Datanglah! Tiba-tiba kulihat tubuhnya melesat ke udara, menuju bintang-bintang yang gemerlapan. Ia melayang jauh, muncul lagi, dan kemudian lenyap di dalam selimut malam. Oh, indahnya. Sungguh sangat menyenangkan tidur dekat jendela ini…

Mungkin maag-ku yang kumat sehingga cairan milanta kurang memadai untuk menenteramkan lambungku dan suntikan itu sangat efektif untuk meneduhkan rasa perih yang menyayat-nyayat ususku selain cedera yang menimpa kepalaku dan kakiku. Suara kawan di sebelah segera bagaikan suara sayup-sayup di kejauhan yang kemudian lenyap di telan angin.

Petang harinya aku membuka mata. Kawan di sebelah tersenyum dan menyapaku seperti biasa.

Tidur dekat jendela ini amat nyaman, kawan. Segala derita berlalu, apalagi kalau silir malam yang lembut mulai menyentuh tubuh dari celah-celah gorden. Seperti lembutnya belaian kasih tangan malaikat menyentuh tubuh. Alangkah indahnya pertemuan dengan anakku itu. Dan belum lama berselang, ketika Anda tertidur, seseorang menyapa aku. Melalui semilir angin yang lembut ia berbisik kepadaku, Pak, tidak usah takut. Berjalanlah bersama kami, dengan sayap kehidupan yang abadi kita menjelajahi angkasa dan tiba di sebuah tempat yang tiada lagi derita. Kawan-kawanmu seperjuangan dahulu ada bersama kami, mereka rindu bertemu dengan Anda. Lalu aku menyaksikan sebuah pertunjukkan, sebuah pesta yang meriah. Semua orang berpakaian yang indah-indah. Semua tampan dan cantik jelita. Bidadari-bidadari dari kayangan menari, ada suara menarik, ada suara musik yang mendayu-dayu dengan berbagai melodi yang menggairahkan tubuh. Lentiknya tangan mereka, ayunannya yang menggoda, hidangan anggur merah yang meriah, oh, nikmatnya.

Taman di sebelah ini memang dirancang untuk memberikan inspirasi tentang masa mendatang. Sepanjang hari penghuni taman ini mengadakan pesta yang tidak ada putus-putusnya, seolah-olah hidup ini hanya untuk pesta meriah saja. Para pelayan yang sopan, persediaan yang tidak habis-habisnya, sungguh menyejukkan hati…

Aku tidak dapat memberi komentar karena sesekali rasa nyeri di lambungku mengentak-entak. Hal itu terjadi mungkin sesudah pengaruh obat penenang itu hilang. Hanya kadang-kadang tebersit dalam benakku, apakah pemandangan kawan sekamar ini benar-benar indah, ataukah itu hanya bayang-bayang di dalam lubuk impian hatinya yang terdalam. Ketika suster menutupkan gorden pembatas karena hendak menyuntikku kembali, aku bertanya, Suster, mengapa pasien sebelah belum pulang? Kukira kesehatannya membaik karena ia lancar berbicara.

Suster itu tersenyum. Ia harus mendapat tambahan darah, tapi keluarganya belum berhasil mendapatkannya. HB-nya sedang menurun.

Tengah malam aku terbangun mendengarkan beberapa kaki yang bergegas dan tempat tidur yang didorong. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi pintu segera ditutup dan kembali senyap.

Paginya, saat matahari mulai menyusup dari celah gordenku aku menyapa suster yang membawa obat untukku. Tadi malam seperti ada sesuatu yang terjadi di kamar ini.

Ah, tidak apa-apa. Hanya teman sekamar Bapak dipindahkan ke ruang penantian di bawah.

Ruang penantian? Apa itu?

Kamar paling akhir, jawab suster itu tenang. Mungkin peristiwa seperti itu sudah terlalu sering dialaminya.

Maksud suster? tanyaku penasaran.

Ruang perjalanan akhir, katanya perlahan. Pak, minumlah obatnya! katanya sambil meninggalkan ruangan.

Setelah minum obat aku menekan bel untuk memanggil dokter.

Bapak memanggil saya? tanyanya dengan terengah-engah. Rupanya ia sedang terburu-buru.

Ya. Bolehkah suster memindahkan tempat tidur saya ke dekat jendela itu?

Mengapa? Bapak kurang enak tidur di sini?

Ingin udara yang segar.

Baiklah, katanya sambil melangkah ke pintu, Saya akan minta bantuan kawan yang lain.

Mereka menggeser tempat tidur yang dekat jendela itu dan menarik tempat tidurku ke tempat itu. Setelah suster pergi, aku mencoba menarik bantal dan menyandarkan tubuhku ke dinding, disangga bantal. Kudorong daun jendela, membukanya lebar-lebar. Aku terkejut melihat pemandangan di luar. Wou! Aku menjerit tak sengaja karena melihat di bawah pohon kamboja yang meranggas, tersebarlah nisan di atas lahan kubur yang tua.

Buru-buru kutekan bel. Suster berdatangan ke ruanganku.

Ada apa, Pak?

Suster, tolong pindahkan aku dari ruangan ini! Tolong segera…

Kurasa lebih lima belas menit kemudian, aku dipindahkan ke ruang sebelah, di bangsal yang lain.

Bandung, 19 Agustus 2005


View the original article here

Cerpen Kompas: Indrakila

Cerpen Kompas Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar, lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya, ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang, mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. Sebagai penulis, dia malah membayangkan produktivitasnya nanti, di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra.

Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. Ini untuk melukiskan, bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit, di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. Di seberang sana, lembah dan gunung-gunung. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya, lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak, ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya), kebiasaan serta irama keseharian mereka, sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata, fana.

”Kamu ini psikolog, pendeta, atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi.

”Sudahlah, kamu jawab semua pertanyaanku. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual, bukan teknis,” tukas sang teman.

”Wah, aku lupa, pekerjaanmu urban planner. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek, ha-ha-ha…,” sahutnya berseloroh.

Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu. Sang sahabat garuk-garuk kepala. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi,” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. ”Aku memang belum pernah membangun rumah. Kali ini aku mau, karena ini rumah wong edan…,” tambahnya getas.

Ketika hari pensiun tiba, teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta.

”Masih cantik ya…,” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan. Terus terang, ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu.

Dia disuruh pidato, menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. Beberapa teman ada yang mengusap air mata. Pimpinan perusahaan, orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut, mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”.

Begitulah, sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri, untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri, terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa.

Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi. Terasalah, waktu tidak seluas dibayangkannya. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. Setelah itu sore tiba. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain, dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung.

”Kalau ingin menulis, ya mustinya bangun pagi,” komentar istrinya.

Dia cuma tertawa. ”Benar juga,” ujarnya dalam hati.

Pertama berat, tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri. Ia mulai bangun saat subuh, sebelum matahari terbit.

”Kenapa bangun sepagi itu, Pa?” tanyanya. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, bersih-bersih, merapikan barang-barang, dan lain-lain. ”Ooh, barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan,” pikir sang istri.

Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman, memangkas dan merapikan daun-daun bambu, menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan, sesekali merawat dengan memberinya pupuk, memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman, sampai-sampai, dia seolah seperti landscaper. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. Dia lebih tertarik pada tanaman. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman, gardening, lanscaping, space planning, dan semacamnya.

Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga, orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani.

”Mas Daru kini jadi petani lho…,” celoteh orang di kantor.

”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya. ”Apa dia bisa pegang cangkul?”

”Hu… kalian tidak tahu. Coba tanya beberapa teman. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. Waktu saya ke sana, kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. Katanya dia sampai diprotes tetangga, takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling….”

Begitulah kehidupan pensiunan ini. Dia menjadi petani. Soal menulis, jangan-jangan dia bahkan sudah lupa….

Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan, selalu terjadi pada para pensiunan. Hanya saja, ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi, kaget juga banyak orang). Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong.

Ia dilarikan ke rumah sakit. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan.

”Stroke ya?”

”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?”

”Stres karena pensiun, kali….”

Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. Sang istri percaya, tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa, dari berbagai penjelasan dokter, si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. Akan tetapi, ia percaya, kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki.

Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali, melihat kemajuan suaminya. Ia merasa benar dengan feeling-nya. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. Bukan hanya stretching, tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. ”Liong bun…,” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga….”

Perkembangan berikutnya lagi, sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya, dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian, dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi, berada di ruang kerja menghadap komputer. Dia baru menyadari, bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya, langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung.

”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya.

Sang suami diam, duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan.

Di balik gunung ada gunung, di balik cakrawala ada cakrawala….

Si istri kaget. Suaminya telah pulih kembali. Itu tadi ucapan suaminya, penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam.

Didekatinya suaminya dari belakang. Ia ingin menguji memori suaminya.

”Itu gunung apa Bib…,” tanyanya, dengan menggunakan nama panggilan suaminya, semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu.

”Indrakila!” jawabnya.

Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango.

”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila. Semua saudaranya tumbang di jalan. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan, diiringi anjing kita, Patman…,” suaminya melanjutkan kata-katanya.

Ah, realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali. Wanita ini tersenyum. Itu Gunung Gede-Pangrango, bukan Gunung Indrakila. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka.

Sang istri kian penasaran.

”Kita sekarang berada di mana?”

”Mertasari!”

Tersenyum sang istri. Dia tahu, suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari, bukan Mertasari.

”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik, di pinggir kolam.

Si suami diam sesaat, sebelum berucap, ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri, tentang asal-usulnya, tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita….”

Terhenyaklah sang istri. Itu peristiwa puluhan tahun lalu, pertemuan mereka, episode-episode manis yang pernah mereka lewati.

Mata sang istri menjadi berkaca-kaca. Dia peluk suaminya dari belakang.

”Bibib telah benar-benar sehat, siap menulis lagi…,” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya.

Langit semburat merah. Pagi benar-benar datang.

Ciawi Junction, 2005


View the original article here