Google+ Followers

Friday, 22 March 2013

Mozaik Rabthul 'Am - Cerpen Islam

Tes… tes… tak terasa air mata jatuh perlahan dari sudut pipi. Tak terlukiskan perasaan yang kian membuncah rasa penyesalan dan kekecewaan. Perasaan amat bersalah pada kak Idam yang kala itu aku pun tak tahu bagimana perasaan beliau. Aku tak tahu jika segalanya akan jadi berantakan, pertemuan yang pertama dan terakhir dengan keluargaku itu menyisakan segores luka baginya. Tak merasa dianggap atau dihormati, tapi ntahlah… hati ini tetap husnudzon.

“Assalamu’alaikum raisya, kakak beserta keluarga mungkin telat datang ke rumah karena hujan. Jadi kakak berteduh dulu, mohon raisya dan keluarga bersabar ya menunggu kedatangan kami”. Kubaca berulang-ulang sms pertama kak Idam yang masuk di hapeku, yang tak habis pikir ternyata beliau memang serius. Entah seperti apa rupa beliau, tapi ada rasa gusar yang tak tertahankan. Seonggok beban tiba-tiba menghimpit dada sesak bercampur deg-degan. Rasa bahagia membuncah seketika, guratan rona merah terlukis dalam balutan pipi chubby milik raisya. Selang beberapa menit berlalu hapeku kembali bernyanyi pertanda sms masuk, kubuka dengan segera khawatir sms yang datang kedua kali dari kak Idam tapi ternyata bukan. Sms itu dari murobbiyahku, yang berisi permohonan maaf kalau liqoan diganti dengan pertemuan beserta jamaah lain untuk segera hadir di kampus STIA Aisyah Al Munawaroh jam 08:00. Sedangkan saat ini jam menunjukkan pukul 10:00, sms baru kubaca karena Ya Allah… ada dua pertemuan penting yang harus aku hadiri sekaligus dalam waktu bersamaan dengan tempat berbeda.Dilema….

Bismillah, Ku pikir ada baiknya aku memilih untuk hadir di liqoan gabungan tersebut. Toh kak Idam akan datang jam 14:00 rencananya. Ada jeda waktu sebentar untuk singgah menempuh ilmu walau sedikit. Brem…. brem… deru motor yang sedang distarter siap meluncur dengan kecepatan maksimal agar segera sampai di tempat tujuan. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali pikirku. Sebelum berangkat kubisikkan ke telinga bunda.
“Bun, insya Allah hari ini ada tamu special. Laki-laki dari Bekasi beserta keluarga. Mohon persiapkan segalanya sebaik mungkin”.^_^
Dengan tertawa lebar bunda sudah memahami maksduku, akankah putri semata wayangnya ini akan segera dipersunting oleh laki-laki idamannya?. Begitu kira-kira dari raut muka yang kubaca, walau tak secara langsung aku memberitahukan maksud kedatangannya.

***
Mars Rabhtul ‘Am

Cita cita kita begitu nyata
Ingin Indonesia maju sejahtera
Ingin sama berdiri di mata dunia
Punya harga diri dan penuh bangga

Busungkan dada dan tegak kepala
Dengan gelora semangat membara
Atur derap langkah agar seirama
Ajaklah seluruh nusantara

Beban berat jangan pikul sendiri
Berbagi saling memberi arti
Membuka tangan dan berpegangan
Maju bersama saling menguatkan

Taburkanlah rasa kasih sayang
Agar bertambah banyak kawan
Bersatulah dalam perbedaan
Bersatu untuk raih kejayaan

Gegap gembita suara lantang yang menghentak kudengar dari luar sana. Semangat membuncah dari para akhwat. Subhanallah sedang bernyanyi rupanya…. Ingin segera menghambur dalam barisannya.
“Assalamu’alaikum, afwan ana telat Ummi.”
“Wa’alaikumsalam gak apa-apa masuk aja, absen di murobbinya ya.” Senyum simpul ummi Ita begitu menyejukkan, walau usianya tak lagi muda. Tapi semangatnya luar biasa.
Subhanallah pikirku, tak sia-sia pikirku. Pemateri luar biasa, setidaknya menambah ghirahku. Tak terasa jam menunjukkan tepat pukul 15:30, hatiku semakin gusar khawatir tamu agung itu tak mau menungguku. Padahal sudah kukirim permohonan maaf sekaligus kesediaan untuk menunggu karena sedang liqo. Tapi tak ada balasan dari beliau. Chargeran ruh yang sedikit terisi meluluhkan perasaaan gusar sekaligus berirama menunjukkan si empunya sedang gelisah.

**
“Nduk, idam sudah kesini dan keluarganya. Ia menanyakan pribadimu hingga mendetail, dan memintamu untuk menjadi pendampingnya. Tapi ayahmu ndak langsung mengiyakan, karena menunggu persetujuanmu. Bunda suruh menunggu, tapi katanya ndak bisa karena keluarganya hendak pergi ke walimahan sepupunya di Bekasi”.
“Jadi, Kak idam ndak mau nunggu rai bun? Yah…. Keluhku. “Yasudahlah bun, klo memang jodoh ndak kemana. Masa iya suruh nunggu sebentar kak idam ndak mau. Padahal aku yo bukan sedang main-main, tapi sedang berburu ilmu. Bunda, klo misal kak idam membatalkan pinangan ini. Jangan marah ya, anggap aja rai belum waktunya untuk menyempurnakan setengah dien”. (Senyum simpul)
Seminggu berlalu tak ada kabar burung yang terdengar darinya, ntah menolak atau tidak ia tak pernah mengabariku lagi.
“Assalamu’alaikum kak, afwan bagaimana keputusannya ? karena keluargaku sudah menunggu jawabanmu. Maaf sebelumnya telah mengecewakan kakak, klo memang ndak diterima ndak apa-apa anggap kemarin hanya sebatas ukhuwah”. Send Message.. klik…
“Wa’alaikumsalam.Ya kami sudah memaklumi hal itu dan menganggap kemarin hanya sebatas ukhuwah”.
“Afwan kak, klo boleh tahu alasannya kenapa?”
“Ndak apa-apa”.
“Terima kasih sudah betandang ke rumahku kak.” Terakhir kali sms yang ku kirim buat kak idam. Miris rasanya, walau hati ini mencoba untuk ikhlas. Tapi sungguh ikhlas itu masih diambang bibir, tak merasuk dalam qalbu. Perasaan bersalah telah mengekang merubah segalanya dalam wujud kekecewaan.

PROFIL PENULIS
Rona Amalia Zahra nama pena dari gadis yang bernama asli Halimah Sa’diyah. Anak pertama dari tiga bersaudara yang lahir 22 tahun silam dari pasangan H. Nurhasan dan Hj. Kasmi di Kota Serang Banten. Penulis saat ini masih menempuh studi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jurusan Administrasi Negara. Kegiatan sehari-harinya selain berwirausaha bros (silahkan kunjungi FB nya halimah_sadiyah142@yahoo.co.id sekalian promo. Uhuyyyy), seabreg kegiatan dilakoninya mulai dari nyoba-nyoba magang di kontraktor sampai keliling jualan kue di kampus pernah ia coba. Berorganisasi (LDK Babussalam, Himane, FoSMaI Fisip, TRAS), memasak, membaca adalah kegemarannya.
Pasca lulus dari sekolah menengah pertamanyanya di SLTPN 1 Taktakan, ia bertekad untuk melanjutkan jenjang sekolahnya diluar kandang tempat doi berteduh. Alhamdulillah doi berhasil masuk di SMUN 1 Cipocok Jaya yang kala itu untuk tembus di sekolah bergengsi tersebut butuh perjuangan extra.
Doi yang demen banget berpetualang pengen banget bercita-cita jadi penulis terkenal. Walaupun masih tahap kepompong, ia bertekad jadi kupu-kupu (Uhuk2….. Narsis lagi). ^_^

View the original article here

0 comments:

Post a Comment